Rabu, 05 Oktober 2016

Mengenal Disleksia dan Bagaimana Mendeteksi Anak Disleksia ???






Disleksia?? Memang Harus Tahu Gitu??

Saya tahu disleksia itu sekitar beberapa bulan belakangan sekitar bulan februari 2016 saat mencari tahu penyebab dan apa yang harus dilakukan saat Babam terlambat bicara. Usia 22 bulan belum  ada kata satupun yang jelas terucap, lanjut usia 2 tahun Babam juga belum memiliki rentang konsentrasi yang cukup lama, perhatiannya mudah sekali pecah dan terbagi, kalau dipanggilpun kadang menengok tetapi lebih banyak enggaknya, kontak mata sih ada namun hanya sekilas dan beberapa detik, interaksi dengan orang-orang terdekatnya juga bagus, suka becanda sama saya dan kerabat dirumah.. Usia terus meningkat panik bukan main karena kata-kata belum muncul sampai menjelang usia 3 tahun. Awalnya saya membawa Babam Dokter Tumbuh Kembang Anak di bilangan Cibubur, lalu melihat aktifitas Babam, dokter menyarankan agar mengurangi tontonan di televisi. Membiarkan anak duduk nonton televisi kurang bagus, dan dirumah memang tv menyala , tetapi Babam tetap aja lompat kesana kemari. Babam harus megikuti saran untuk tes Bera (pendengaran) karena memang itu tahapan yang harus dilalui, walaupun saya yakin Babam memiliki pndengarab yang cukup baik. Akhirnya kita pergilah ke RS yang direkomendasikan dan seperti perkiraan saya pendengaran Babam cukup baik.


Babam senang main warna


Tentang ketertinggalan Bahasa yang belum muncul, dikarenakan banyak faktor dan saya juga tidak terlalu mempermasalahkan, omongan dari luar juga saya iyahkan saja lah biar cepat berlalu, karena mereka tidak tahu keseharian Babam toh, walaupun saran-saran baiknya saya tetap ikuti. Karena stimulasi yang kuranag sih menurut saya yang sok-sokan jadi ibu paling tahu yah enggak, ya saya ada terus bersama Babam, memberikan segala bentuk permainan maupun arahan yang baik, juga tegas, kalau masih belepetan dan salah-salah wajar kali yah, sebagai orang tua saya juga belum bisa memberikan fasilitass full untuk Babam, seperti flash Card dan sejembreng sarana laiinnya itu saya dapatkan bukan murni dengan uang kes. Tapi setidaknya beberapa usaha saya tempuh, untuk memenuhi kekurangan Babam dan mengejar ketertinggalannya.


Saat ditanya anggota tubuh, ia baru hanya bisa menunjukkanya dengan bahasa tubuh (kepala, mata, telinga, hidung, mulut, dan lidah)


Sampai kami ke Bandung untuk mendapatkan observasi dari psikolog yang memiliki rekomendasi sangat baik, memiliki pengalaman berderet ta hanya di Indoneia tetapi juga luar negeri. Ibu Endang saya menyapanya, Babam bertemu beliau dan menjalani beberapa rangkaian tes, memang Babam sangat-sangat aktif, tidak bisa duduk diam, tetapi ketika diberikan alat dan permainan Babam mau menyelesaikannya. Hasil setelah kami tes juga Babam belum mendapatkan diagnosa yang pasti karena terbilang usia cukup dini dibawah 3 tahun kala itu, akhirnya kami (mamih dan papih) memutuskan untuk memberikan terapi seminggu sekali di dekat rumah, dengan berdiskusi sebelumnya saat ditempat terapi juga memberikan hasil observasi dengan Bu Endang pada pihak tempat Babam Terapi. Yap memang saya belum sanggup untuk mempelajari sisi istmewa dari Babam, saya perlu banget belajar dari ahli, dan itu juga belum tentu sepenuhnya saya terapkan, nafas dulu yahh. Hhhmmmmmm


Babam menjelang 3 tahun


Lanjut dibulan berikutnya saya mendapati sebuah seminar menarik mengenai Disleksia dan yap yap yap jeng jeng kata itu baru saya dengar. Saya mendengar melalui radio UFM Jakarta dan saat itu penyiar Ganteng idola Ibu-ibu hahaha Mas Arif berbincang dengan Ibu-Ibu hebat yang memiliki anak dengan Disleksia. Seminar itu akan diadakan di Jakarta sekitar bulan Maret 2016. Mengapa saya antusias??? Karena memiliki dan mendapati Babam terlambat bicara memiliki resiko disleksia yang lebih besar. Disleksia bukan merupakan penyakit tetapi sebuah ganggugan belajar spesifik yang dimiliki seseorang, dengan catatan kecerdasannya normal sampai diatas rata-rata. Gangguan belajar spesifik itu seperti sulit membaca, atau mengeja, sulit melafalkan beberapa kata tertentu, sulit membedakan arah, dan membaca huruf yang sering kali terbalik. Itu merupakan ciri umum, untuk lebih spesifik dan tahu lebih jelas saya datang dong ke seminar tersebut, dan langsung dijelaskan oleh ahli dan pakarnya yang memang memiliki kredibilitas tinggi yaitu Dr Purboyo Solek, jug Dr Kristiantini Dewi (maaf kalau salau penulisan gelar).  Dalam seminar tersebut memang dijelaskan mengenai disleksia secara menyeuruh, dan saya duduk di barisan terdepan, karena seminarnya cukup ramai mungkin ada sekitar 300 orang disana.

Sebatas kemampuan saya menyerap isi seminar mengenai Disleksia (dan harus belajar lagi), saya menjabarkan dengan Bahasa sederhana saya mengenai disleksia.

Apa itu Disleksia ????

 Dyslexia merupakan kelainan dengan dasar neurologis, bersifat familial, yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan dan pemprosesan bahasa.
Dyslexia bervariasi dalam gradasinya
Dyslexia dapat bermanifestasi sebagai kesulitan berkomunikasi/berbahasa ekspresif, membaca,menulis, mengeja, dan kadang dalam matematika.
Dyslexia tidak disebabkan karena kurangnya motivasi ataupun adanya gangguan pada area sensoris, instruksi yang tidak tepat atau keterbatasan dalam berpengalaman namun  biasanya mereka berespon dengan baik terhadap intervensi yang tepat.
 Disandang seumur hidup namun biasanya mereka berespon dengan baik terhadap intervensi yang tepat.
 Gangguan kronis tersering pada masa kanak-kanak
Merupakan bentuk tersering (80%) dari kesulitan belajar spesifik
 Mengenai 3-17% anak usia sekolah
Kondisi kronis yang menetap, BUKAN suatu keterlambatan perkembangan, BUKAN karena salah pola pengasuhan
 Laki: perempuan = 3:2 / 5:4 / 2:1 / 1:1
IQ Normal atau > Normal
(The Interntional Dyslexia Association 1994)

Karena disleksia tidak hanya sebatas pada kesulitan membaca atau menulis saja, tidak sesederhana itu namun sangat kompleks dan perlu perhatian juga intervensi khusus agar saat masa anak-anak mereka tidak despresi dan dapat mencapai kehidupan juga masa depan cemerlang. Yang perlu diperhatikan adalah disleksia sangat kompleks dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Dampaknya bila tidak ditangani dengan baik dan maksimal akan sangat mempengaruhi, Bila terjaadi Salah Label-Salah Kelola-Hasil Buruk-Self Esteem Buruk- Menjadi sampah masyarakat. Padahal anak yang disleksia memiliki kesempatan yang sama dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan dan bakatnya, Bisa sangat kreatif, berfikir “out of the box”, memiliki inovasi yang baik, kepintaran visual yang bagus juga kemampuan problem shooting yang baik. Disleksia juga bisa jadi apa saja, memiliki kesempatan dan profesi yang luas, bisa menjadi seniman, pengacara, dokter, guru, pengusaha ataupun penulis. Karena bila ditelusuri lagi mengenai disleksia orang-orang atau publik figure yang dikenal juga banyak yang disleksia seperti Kiera Knightley, Deddy Corbuzier, Albert Einstein, Thhomas Alfa Edison, Tom Cruise, Walt Disney dan masih banyak yang lainnya. Bila mendapatkan penanganan yang sesuai anak disleksia memiliki kesempatan yang luar bisa dan bisa hidup dengan bahagia, sebaliknya bila ditagani dengan salah akan menjadi fatal dikemudian hari.

Ciri disleksia pada Babam terlihat pada keterlambatan bicara juga kemampuan untuk mengolah kata juga Bahasa, tetapi sekarang Babam berusia 3,5  tahun, belum bisa juga dipastikan ia memang disleksia atau yang laiinya karena akan teguh diagnosa disleksia pada anak berusia 6 tahun, karena itu saya terus memantau perkembangan Babam, juga belajar dari para orang tua yang hebat dengan kesabarannya untuk mendampingi putera-puterinya. Toh walaupun Babam entah disleksia atau tidak pengetahuan dan pengalaman para orang tua yang jauh dari sebuah nyinyiran tetap bisa menjadi sebuah masukan positif untuk saya dan Babam.  Karena memang tanggapan orang yang tidak tahu atau mengerti akan melihat babam tipikal anak yang sangat agresif, atau bila banyak orang yang tidak tahu mengenai disleksia akan menjadi bahan ledekan, cemooh dan menganggap sebuah lelucon yang ditertawakan. Karena hal seperti itu tentu akan membuat kemunduran kepercayaan diri bagi orang tua ataupun anak disleksia itu sendiri.

Kegiatan Babam dirumah

Seminarnya memang sangat lengkap, panjang dan isinya berbobot, saya juga menyimpan beberpa file yang menjelaskan disleksia, karena disleksia juga memiliki komorbid dengan hal laiinya. Sebaiknya bila ditemukan ada anak yang memiliki kesulitan membaca, menulis atau membedakan angka juga huruf mungkin suatu gejala disleksia yang bisa ditangani sedini mungkin, dan jangan mengecap anak tersebut bodoh atau tidak menegrti, sebaiknya diskusikan dengan ahli juga para guru disekolah. Di sekolah selama mengajar waktu itu saya juga mendapati anak-anak yang memang kesulitan membaca dan menulis, kadang arah untuk ke toilet dan kantin juga tertukar, waktu itu saya mengajar seni budaya tidak terlalu terlihat ciri disleksianya justru ia pintar sekali menggambar. Pengetahuan mengenai anak disleksia sebetulnya juga sangat dibutuhkan oleh guru-guru disekolah karena Selama mendampingi murid di sekolah anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda dan masih banyak guru-guru yang belum paham mengenai disleksia bahkan mendengar kata disleksia itu sendiri.

Disini saya juga tidak menjembreng secara lengkap mengenai disleksia, sepengetahuan saya ada film mengenai disleksia di Indonesia yang akan tayang tetapi saya belum tahu sih judulnya apa, nanti kalau tahu akan saya update kembali. Update baru nih, filmnya berjudul Wonderful Life, bisa dilihat ulasannya disini.

 Penyampaian mengenai disleksia ini juga beberapa saya ihat di televisi, bahkan belakangan ini ada jalan bersama anak dan para orang tua yang tergabung dalam DPSG (Dyslexia Parents Support Group). Dari sana saya juga mendapatkan banyak sekali pengalaman dari orang tua yang selalu sabar mendampingi anak-anaknya.


Setelah pulang dari seminar saya mendapatkan pemahaman yang baru bahwa kecerdasan dan karakter anak memang berbeda-beda, saya juga tidak boleh lagi membandingkan dan meremehkan anak-anak diluar sana. Karena semenjak jadi orang tua jadi tahu perasaan saat anak kita dicemooh atau dibilang anak nakal, iyesss nyesss merinding rasanya. Tapi mungkin mereka semua belum tahu dan ya saya juga kembali belajar sabar tidak terlalu mempedulikann lagi hal seperti itu. Mengenai Babam yang terlambat bicara sekarang sudah mengalami peningkatan untuk mengucapkan kata-kata atau meminta sesuatu, Babam juga sudah bisa mulai shooting loh walaupun yap yap harus extra yah, super sktifnya memang masih sangat menonjol sekali, tetapi sesekali bisa duduk dan bertahan 5 detik lumayanlah yah. Tetap semangat yap menjadi orang tua yang tidak berhenti belajar dan menerapkan untuk kemajuan Babam.

info lengkap mengenai disleksia




46 komentar:

  1. Babam imut banget, semoga dengan terapi Babam ada perkembangan yang baik ya mbak. Selalu semangat yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah selalu ada perkembangan.. terima kasih mba 😊

      Hapus
  2. Babam lucu banget siih.....semoga Babam hanya sekedar malu bicara sekarang ya....semakin besar semakin percaya diri. Tetap semangat ya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. 3 tahun baru muncul kata-kata nya mba, mamih papih dan beberapa kata baru, ia tipikal anak yg super aktif hehe. siap selalu semangat

      Hapus
  3. Tetanggaku juga ada, 2 tahun ggmau ngomong cuma senyum ajah

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ada perkembangan yg baik kedepannya.

      Hapus
  4. Kalau fajar dulu sempat ketular huruf b sama d kebalik balik tapi ga lama apakah itu termasuk disleksia juga mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disleksia salah satu ciri nya sulit membedakan huruf, ada beberapa gejala lg, kalau hanya sulit membedkan huruf tapi mudah utk membaca dan menulis kemungkinan hanya tertukar sewajarnya anak-anak usa membaca dn menulis

      Hapus
  5. Mamih detail banget ini infonya, koreksi bnyak yg typo mih hehe :)
    Kecup sayang buat babam yaa, hug and kiss...Muuuah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyahh nih nona melinda...sambil ngantuk nulisnya..jam tidur siang Babam tapi ikutan ngantuk..wakakaka

      Hapus
  6. Baru tahu nama penyakitnya, makasih infonya ya, Mbak. Ini info detail banget.. sip pokoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf mba disleksia bukan suatu penyakit. Hanya anak-anak disleksia butuh pendekatan untuk cara belajar yang sesuai. 😊

      Hapus
  7. Huhu lengkap banget artikelnya mba...peluk mba Mira. Aku taunya disleksia itu kelainan dalam hal bahasa, tidak bisa mengeja, telat bicara.


    Yang sabar ya mba...anak yang hebat pasti punya ibu yang hebat seperti dirimu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhh Mba Sally, Aamiin semiga saya bisa selalu baik dan sehat mendampingi Babam... pelukk balikk semangattt

      Hapus
  8. semangat.. coba dibaurkan juga dengan sekolaan yang mengerti. Semangat ya :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah rencana habis semesteran akhir tahun ini masuk sklh, tapi sembari. makasih semangat mak 😊😀😁😄. salam buat Rafi dan calon debay 😘😍

      Hapus
  9. Harus punya stock sabar yg banyak ya mba klo menjadi orang tua, toss kite emak2 yg terus belajar 😄
    Aku pertama kali tau ttg disleksia, gara2 nonton film india taar jamen var (embuh judulnya lupa, kira2 begitu) keren bgt mba, bisa jd inspirasi tuh filmnya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mba, itu film indianya aku juga lupa, tapiinget Aamir Khan nya aja wakakaka,ha berkali kali sih nontonnya, yg film Indonesia "Wonderfull life", baru nemu tapi blm tayang. semangat. 😊

      Hapus
  10. makasih sharingnyam nice artikel

    BalasHapus
  11. Aku survivor disleksia mak. Sekarang mah dah tua emang usiaku. Tapi aku udah melewati masa2 sekolah dulu. Boleh tanya2 aku tentang ara belajarku dulu ya mak. Siapatau bisa ngebantu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp mba Ade..penuh perjuangan yah melewatinya.. siap siap bisa sharing mba..makasih banyak

      Hapus
  12. Shidqi kecil juga telat bicara, males ngomong, konsentrasi pecah, sekarang? haha, duh byk sekali ngomongnya.. mmg awalnya selalu dipancing obrolan.. dan kalau utk telat bicara sptnya ada faktor keturunan juga, bisa jd krn byk pihak keluarga yg pendiam..

    BalasHapus
  13. iyah ada faktor keturunan juga, sudah ditelusuri sih, kebetulan dirumah ramai, Babam selalu diajak main xixixixi.. siap makasih mba lia sharingnya. 😊

    BalasHapus
  14. Udah coba bawa Babam terapi wicara mba? Paling gak biar dibantu dikasih stimulasi untuk kemampuan bicaranya. :)

    Oh ya, aku penasaran yang di Bandung itu bu Endang siapa namanya? Jangan-jangan dosenku ehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Babam gak terapi wicara, kena kata2 nya keluar saat perilaku nya tenang. Boleh lanjut terapi wicara klo terapi SI nya sudah lulus mba, kena terapi wicara memerlukan ketenangan anak duduk diam. Super aktifnya masih menonjol 😁

      Hapus
  15. Babam ganteng, pasti bakalan cerewet. Hihii. Mba, aku nggak tahu apa keturunan atau nggak. Papaku telat ngomong, adikku juga. Anakku Ayyas agak telat dan kalau ngomong memang sempat nggak jelas jika dibandingkan sepupu seusia (kala itu). Tapi skarang udah cerewet. Mungkin disleksia berbeda ya. Semangat mba ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlambat bicara juga kena turunan koq mba. Terlambat bicara memang resiko disleksia tapi belum tentu, bisa ada faktor lain juga. Hehe. Selalu semangat

      Hapus
  16. Babamm lucu bangettt mbak..aku sebenernya galau sih pas baca ini karena kata ortu pas masih kecil aku lbh banyak diem dan melamun bahkan ortu smpt ngira aku autis hehehhe. Aku jg susah banget konsen pas di sekolah dulu mbak sampai harus les private baru ngerti..sampai skrng sadar sih agak lebih lambat memang untuk mengerti. Seandainya sekolah juga diberi pengetahuan bahwa beberapa anak ada yang mengalami disleksia pasti orang tua lebih nyaman ya...salam kenal mbak

    www.blueskyandme.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mba, iyah banyak sekoah yang belum tahu, saya pas di bangku kuliah mata kuliah psikologi pendidikan jg gak menyinggung mengenai disleksia. klo sekarang media sosial sudah semakin las dan banyak orang yang sharing serta ada komunitas yang support, walaupun oemerintah sendiri belum memfasilitasi di sekolah maupun di lembaga pendidikan untuk anak-anak disleksia. semoga kedepannya bisa lebih mencerahkan. terima kasih salam kenal

      Hapus
  17. Saya kena disleksia dan untunglah sampai sekarang seiring dengan perkembangan waktu saya dapat melewati semuanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyahh mas, anak-anak disleksia juga bisa sukses koq.. perjuangannya jempol yah 😊😀

      Hapus
  18. Anak saya usia 7 tahun. Kemampuan dia untuk merangkai kata ketika berbicara kadang masih belum baik. Dia jg memakai pilihan kata yg kurang tepat ketika berbicara.
    Oya ketika mandi seringkali ada urutan yg tdk dikerjakan karena lupa. Misalnya lupa menggosok gigi. Jd hampir tiap kali mandi saya meningatkan.
    Mohon masukannya Bunda :)

    BalasHapus
  19. Anak saya usia 7 tahun. Kemampuan dia untuk merangkai kata ketika berbicara kadang masih belum baik. Dia jg memakai pilihan kata yg kurang tepat ketika berbicara.
    Oya ketika mandi seringkali ada urutan yg tdk dikerjakan karena lupa. Misalnya lupa menggosok gigi. Jd hampir tiap kali mandi saya meningatkan.
    Mohon masukannya Bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkah buka dan cek di FanPage Facebook Bicara Disleksia yang ada di link blog ini. Akan banyak penjelasan yang lebih terperinci mengenail gejala disleksia pada anak. Disana juga banyak expert dan org tua yg berpengalaman juga saling mendukung.

      Hapus
  20. Film India yg di bintangi amir khan itu judulnya taree...klo nda salah gt penulisannya.bagus bgt bercerita ttg bocah yg disleksia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah nonton berulang kali pengen peluk Babam terus, selalu terharu. Hehe

      Hapus
  21. Babam gemesss. Beruntung Babam punya ortu yang aware dengan tumbuh kembangnya. Kan kasihan dengan anak yang memiliki kekurangan tapi ortunya mudah mencap bodoh :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihh mak.. setuju semua anak istimewa semangat mak.. gemezz Babam hahaha

      Hapus
  22. Akupun baru tau tentang disleksia, makasih sharingnya,wawasan penting seputar anak... udah jauh2 sampe ke bandung ya mak...semoga selalu dimudahkan dalam terapinya untuk Babam ya mak

    BalasHapus
  23. Mba, apakah ada pencegahan sedari dini agar anak tidak terkena disleksia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keturunan om Agus. Klo ayah atau ibunya disleksia kemungkinan anak nya bisa resiko disleksia.

      Hapus
    2. Keturunan om Agus. Klo ayah atau ibunya disleksia kemungkinan anak nya bisa resiko disleksia.

      Hapus
  24. Aku dulu sering keliru membedakan antara huruf L dan R dalam sebuah kalimat, sekarang anakku agak terlambat berbicara dibandingkan teman-temannya tapi juga sepertinya ada faktor keturunan juga dari pihak suami, keponakan kami baru lancar berbicara saat sudah masuk SD, jadi pas TK baru mengucap 1-2 kata itupun terbata-bata seperti bocah asma. Humm..sepertinya saya harus aware, karena saya tahu diseleksia itu bukan penyakit tetapi keistimewaan dari kacamata Tuhan.

    BalasHapus
  25. nice info. makasih sharingnya yaa.. moga Babam sehat selalu :)

    BalasHapus
  26. Semangat terus, Mamih! Insya Allah, Babam akan jadi anak hebat! :)

    BalasHapus