Minggu, 15 Oktober 2017

Film My Generation : Kenakalan Remaja yang Gak Seharusnya Nakal



Kalau dibilang garing gak update informasi karena jarang bermedos sih iyah, tapi demi melihat oertumbuhan dan kengerian dunia remaja yang absurd dan penuh drmatika di era media sosial yang kian ekspresif kayaknya papih memang harus tahu banget untuk kembali melihat apa yang ada dalam lingkungan anak dan remaja karena sudah berposisi sebagai orang tua.





Gaya bebas dan kehidupan yang penuh hura sebenarnya tidak hanya terjadi di masa kini sejak dulu mungkin dari jaman kakek nenek ya memang kenakalan remaja sudah ada. Taoi karena era digital dan media sosial hari gini makin terbuka lah rasa kristis, cara anak remaja berekspresi yang bisa dilihat sama khalayak umum.



Kenalakalan dan masa menjelang depresinya anak remaja yang coba diungkap oleh Sutradara Upi dalam film My Generation. Lihat teaser dan trailenya sudah rilis banyak ketakutan dan kekhawatiran yang langsung lari ke dalam pikiran orang tua. Wahhh ini koq begini??? Wahh ini koq ngajarin??? Wah ini koq terbuka?? Wah wah wah dan berbagai rasa tertegun yang lain.



Dengan adanya Film My Generation Im in, dalam arti film My Generation memang mengungkap, membuka fenomena anak milenial sekelumit yah taoi nyata,  bagaimana ulah anak remaja ketika mereka di kekang, merasa miskin tata krama, mereka anak-anak remaja yang memiliki materi berkecukupan tapi miskin kepercayaan dari orang tua, tidak diterima dengan apa adanya, boro-boro didengar apa cita-cita dan keinginan mereka.

Proses pendewasaan diri, cara pandang antara orang tua ke anak, cara pandang anak ke orang tua itu yang di olah menjadi sebuah titik konflik yang berakibat kenakalan pada remaja yang menjadi sorot penokohan di film ini. Sebuah proses hidup adanya pembelajaran salah dan benar seharusnya bukan menjadi titik mutlak tapi keseemuanya menjadi skema evaluasi hubungan dalam lingkup keluarga.

Mental anak remaja yang harus dipupuk ya mulai dari rumah, bukan dengan omelan yang jadi bualan atau sikap skeptis, otoriter yang kontra demokrasi.



Okelah ke empat tokoh utama menjadi sebuah tantangan bagi upi dalam meramu ide cerita. Proses pemilihan tokoh cukup lama dan mereka semua baru dmain film pertama kali, ada Arya Vasco, Lutesha, Alexandra, Bryan angelo yang memerankan tokoh Konji, Suki, Orly dan Zeke (dibaca Zeik).


Di lawankan main dengan Joko Anwar yang bahkan harus ikut casting sebanyak dua kali serta meneteskan airmata saat menyaksikan seluruh hasil karya Film My Generation karya Mba Upi.

Surya Saputra pun memberikan jadwal penuh demi mendapatkan kesempatan bermain dalam film ini juga ada Ira Wibowo yang sudah lama bermaim film. Pujian  dari para oemain senior mulai dari skenario dan ide cerita yang diolah oleh Mba Upi, serta tema film keluarga yang menarik dan harus di tonton oleh orang tua, dan juga tenaga pendidik.

Gak dipungkiri atau jadi munafik karena teknologi berkembang, daya juang manusia berubah, gaya hidup semakin berekspresi terlebih di kota besar, media sosial berjamur merubah pola pikir dan berpengaruh dalam perilaku serta lingkungan anak-anak remaja dan tentunya tugas berat orang tua untuk selalu memberikan kepercayaan dan contoh yang fleksibel agar perilaku anak mereka tidak menyimpang.


Ini yang coba diangkat mulai dari persahabatan, hubungan orang tua dan anak, krisis kepercayaan diri, pubertas, kritik aturan dan kesetaraan gender merupakan bentuk konflik yang menjadi bumbu dan ramuan adegan dalam film dengan latar bellakang keluarga juga remaja. Remaja penuh konflik ya gak cuma remaja yah, orang tuapun gitu, tapi mba Upi mencoba membuka realita perilaku anak remaja yang nota bene penuh hura, apakah ini akan dibiarkan begitu aja????

Kalau anak membangkang apa orang tuanya itu berlatar belakang preman???
Kalau anaknya melakukan pergaulan bebas apa orang tuanya bukan pribadi yang agamis??

Semua bisa berbeda pemikiran juga paradigma, faktor penentunya pun banyak, gak cuma orang tua yang bercerai lantas anak jadi broken home, atau dirumah kelihatan kalem karena ada kekecewaan pada si anak yang tidak diketahui orang tua, anak itu diluar jadi berbeda karena ingin mengekspresikan rasa depresi dan kecewanya.

 Gak Cuma anak yang gak berprestasi di sekolah anak yang berprestasi pun masih rawan dengan pergaulan bebas, gak usah jauh merhatiin anak orang lain tapi melihat aanak sendiri dulu, apakah sebagai orang tua sudaah bisa berkomunikasi dan mengenal anak dengan baik??? Tau tontonan mereka?? Tau dunia mereka?? Teman baik mereka?? Tahu pelajarann yang mmereka suka atau tau kenapa mereka pilih tas ransel or selempang?? Apa mengenalnanak dengan detail???

Atau keluarga dirumah hanya mengenal sebatas foto bersama semua dengan lengkap dan disebar di medsos menjadi pencitraan keluarga bahagia???. Bukan berarti juga sih klo foto keluarga itu pencitraam semata, ya memang semua sebab akibat balik lagi banyak faktor. Kalau masih berfikir film ini sebuah contoh yang akan merusak sih, bisa coba bercermin bahwa semudah itukah remaja mudah dipengaruhi??


Apa sebagai orang tua justru menyalahkan konten teknologi dan membiarkan lingkungan yang memberikan mereka pengalaman??
Dampingi, dengarkan, dan rangkul anak-anak anda menjadikan mereka generasi yang tangguh dan tak mudah padam dalam lindungan cinta dan kasih sayang. Berikan kesempatan anak berkarta terima mereka apa adanya berikan support penuh. Karena menjadi orang tua tugas berat dan lebih berat lagi berjibun tantangan kehidupan bebas, obat-obatan dan lingkungam gemerlap.

Penasaran juga sih dengan skenario atau ide ide yang dipuji seniman film, tentu Mba Upi juga sudaah mendalami riset selama 2 tahun mulai dari riset media sosial sampai keliling mmelihat bagaimana pergaulan anak remaja kini. Pencampuran dialog bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga hasil dari riset karena banyak media sosial dan gaya bicara anak remaja kini dengan campur dengan bahasa Inggris, karena itu nyata, alami dan bukan di buat-buat menjadi sebuah keniasaan anak remaja di Kota Besar.

Pemain baru yang di dapuk Mba Upi juga sengaja menjadi sebuah kesempatan agar mendapatkan kesan natural juga sebuah tantangan yang menjadikan Mba Upi excited dalam proses penggarapan.




Sempet ketemu pemainnya yang masih malu-malu saat ketemu sama kamera dan banyak orang apalagi ada yang masih kaget dan bingung? Mereka pun masih sopan dengan buang sampah pada tempatnya juga bilanh permisi, minta tolong dan terima kasih.

Sukses dengan film My Stupid Boss, Radit Jani, Realita Cinta, sepertinya gak boleh ketinggalan film ini yang membuka fakta nyata dan apa adanya. Ditungguin deh mba sampai rilis pertama tanggal 9 November 2017 di Bioskop yang artinya kurang lebih sebulan lagi.




Sambil nunggu kalau mau ngobrol yuk mending ngopi.




Foto : dok pribadi

4 komentar:

  1. Film remaja yang mengulas konflik remaja secara komplit dengan sudut pandang berbeda ya, Mas Adam.
    Seru nih, dan harus ditonton.

    BalasHapus
  2. Iya, kenakalan remaja banyak faktornya. Dari lingkungan, keluarga dan yg broken home.

    Orang tua seringnya gak menyadari juga gimana kondisi mental anak-anaknya. :(

    BalasHapus
  3. Penasaran sama akting pemain baru, apalagi mereka kudu main sama aktor dan aktris senior

    BalasHapus
  4. Penasaran dengan cerita yang katanya riset 2 tahun ini.

    BalasHapus