Jumat, 14 September 2018

Mendadak “Ahli Ekonomi” Sejak Nilai Dolar Naik

Dampak Nilai Dolar Menguat

dampak nilai dolar naik


100 Ribu Rupiah Dapat Apa ?


“100 ribu rupiah dapat apa” beberapa status yang sempat heboh akibat dampak dolar naik beberapa minggu terakhir dan penguatan nilai dolar AS bukan sebuah peristiwa yang tidak beralasan. 


Lantas papih mencoba pergi ke warung sayur untuk  membeli sejumlah sayur, yang salahnya memang tidak dicatat dan membanding dengan harga sebelumnya. Ketika dibawa pulang, mamih sih tidak protes kalau itu mahal, paling hanya tanya “pake ditawar gak ?”, terus ditanggapi dengan garuk-garuk kepala jadi bingung masak apa katanya.


dampak nilai dolar naik
Diskusi FMB9, Brsatu Untuk Rupiah


Berbeda lagi saat terpampang di medsos, ada beberapa yang berkomentar kalau belanjaan yang dibeli terlalu mahal, dan ini menjadi koreksi para suami sebenarnya. Ketika belanja ketelitian sang istri memang nilai plus yang harus diberi apresiasi dengan contohnya kalau sudah masak bilang aja enak-enak terus. Berarti suami juga penting mengetahui harga bahan pokok di pasaran, salah satunya bisa tahu sebenarnya kebutuhan rumah tangga memang banyak dan memprioritaskan keperluan istri dan anak bukan egois sendiri, walaupun papih juga belum bisa dengan ketat mengerem keinginan yang belum tentu sebuah kebutuhan.

Jadi apa hubungannya dengan dolar naik, yang pasti langsung terasa saat mau belanja online barang-barang impor, contohnya saja aksesoris kamera, motor, juga perkakas akuarium yang masih impor semuanya. Jadi ketika dolar naik harganya sedikit membuat kaget dan harus disiasati nih, menjadi mawas diri kebutuhan yang beneran gak perlu yah ditahan dulu. 

Tapi itu dampak kepada diri pribadi dan keluarga kecil, sayangnya dampak untuk bangsa Indonesia serta masyarakat memang tidak mudah hanya diberikan himbauan saja. Pemerintah yang harus bertanggung jawab menjaga stabilitas rupiah, ya mungkin dengan memberikan kebijakan dan membuat masyarakat juga bisa berpartisipasi dalam program yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi tentu bapak-bapak yang menjabat harus memberikan contoh juga kemasyarakat, ketika memberikan sebuah solusi yang bisa dilakukan oleh rakyat untuk bersama-sama bersatu menjaga stabillitas nilai rupiah.


Faktor Dolar AS Menguat 



Kembali kabar dan informasi bahwa dolar menguat dan nilai rupiah beberapa waktu lalu menembuh angka Rp. 15.000 merupakan fakta dan benar terjadi. Pada diskusi bersama mellui Forum Merdeka Barat 9 Iskandar Simorangkir selaku, Kepala Departemen Internasional Kemenko Perekonomian menjelaskan masalah terjadinya defisit pada neraca transaksi berjalan kita, bukanlah hal baru dan tidak perlu menciptakan ketakutan yang luar biasa besar. Dibanding tahun 2013 yang angka defisitnya mencapai minus 4,24%, defisit neraca berjalan tahun ini yang mencapai minus 3,04% bukanlah merupakan sebuah krisis.

Iskandar pun kemudian mengajak publik melihat melihat kembali krisis pada 1997-1998 sampai periode saat ini. "Secara historis, ini bukan pertama neraca transaksi berjalan kita mengalami defisit. Pada 2013, curent account mengalami defisit minus 4,24% di triliwulan keduanya. Hal Itu mengakibatkan neraca primer kita mengalami defisit besar.

Kembali ia menegaskan bahwa “Kita memang harus siap menghadapi penurunan rupiah ini, mau tidak mau. Tapi ini bukan merupakan hal yang baru. Tidak perlu ditakutkan. Kalau waspada iya. Hanya, ketakutan yang berlebihan itu tidak bagus. 

Saya banyak melakukan riset, bahwa kalau kita berpikiran negatif itu bisa mengakibatkan hal negatif. Contohnya, terjadinya krisis perbankan, walau sebenarnya banknya sehat. Cuma kalau nasabah berbondong-bondong tidak percaya, bisa bangkrutlah itu bank. Itulah sebabnya. jangan memberi informasi yang bisa membuat kita semua panik,” .

Ada faktor eksternal dan nternak sehingga dolar AS menguat dan dampaknya terjadi dibanyak negara, tidak hanya di Indonesia tentunya. 


dampak nilai dolar naik
Bersatu Untuk Rupiah


Faktor Eksternal, 


  1. Adanya kebijakan suku bunga dari Bank Sentral AS, 
  2. Statement Donal Trumpt juga isu perang dagang antara AS -- China, 
  3. Masalah krisis ekonomi yang terjadi di sejumlah negara contohnya Turki.

Faktor Internal 


  1. Kekhawatiran berlebih dari para pelaku pasar keuangan
  2. Ketidakpastian perekonomian di Indonesia, dan nilai Impor yang masih tinggi



Saat ini yang harus diwaspadai adalah iklim global yang penuh ketidak kepastian. Situasi ini dikhawatirkan bisa memicu capital outflow terjadi. “Fenomena ketidakpastian ini memang fenomena global. Di Argtentina yang kondisi ketidakpastian global telah memicu terjadinya krisis menjadi lebih berat. Dari awal Januari sampai Jumat 7 September 2018, mata uang Argentina terdepresiasi 49,62%.kalau turki 40,7% depresiasinya. Bila di bandingkan dengan Indonesia, depresiasi hanya mines 8,5%, Iskandar Simorangkir memparkan.

Pemerintah tentu saja telah mengupayakan kebijakan dan menindaklanjuti hal ini, namu beberapa pihak masih menganggap jajaran kabinet berserta lembaga terkait masih belum menampakkan hasil yang nyata.  Kehawatian berlebihan tidak diperlukan karena funfamental ekonomi di dalam negeri masih sangat kuat. Hal ini diperlihatjan dengan tingkat inflasi yang masih rendah yakni 3,2%.

Selain mewaspadai inflasi, pemerintah juga akan memperhatikan kondisi neraca perdagangan. Hal ini terkait sejumlah kebijakan pemerintah AS yang mencerak lebih dari 8 miliar dolar pada 2008.Yang mana, itu diikuti krbijakan penaikan tariff yang berdampak pada menurunnya perdagangan dunia.

Pemerintah juga mengajak peran serta seluruh masyarakat Indonesia agar dapat meredam kekhawatiran yang berlebihan. Untuk mendorong kepercayaan masyarakat pada rupiah, Iskandar mengatakan, pemerintah menerbitkan kebijakan kenaikan tarif pph impor. Pemerintah juga akan terus mendorong penggunanan komponen lokal untuk proyek-proyek infrastruktur untuk mengurangi beban impor. Pemerintah juga mendorong penguatan pariwisata, pada 18 Agustus lalu, sambung dia, pemerintah sudah memutuskan memberikan KUR pariwisata kepada UMKM tarifnya 7%. 


dampak nilai dolar naik
Upaya pemerintah menjaga stabilitas nilai rupiah


Optimisme dari pemerintah untuk bersama-sama menjaga stabilitas rupiah yang tidak mengalami pelemahan yang signifikan. Pemerintah yakin, ketika masyarakat percaya ekonomi solid sehingga nilai tukar kita menjadi seimbang.

Masyarakat miskin di Indonesia masih mencapai 25,95 juta jiwa itupun dengan standar pendapatan dibawah Rp. 400.000 perbulan, ketimpangan di beberapa daerah, kasus karupsi mask yang membuat semakin sakit hati rakyat semoga menjadi perhatian yang kemudian diimbangi dengan prestasi pemerintah dalam menerapkan solusi nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar